Jika Kita Yang Mengalami Islamophobia (Dan Perbedaan-phobia Lain)

By 6:13 AM

Source here

Kita Muslim di Indonesia benar-benar beruntung karena menjadi mayoritas di negara sendiri. Saat isu Islamophobia menyeruak di media asing, kita tidak banyak terpengaruh.

Tapi pernahkah kita berpikir bagaimana rasanya bila kita yang menjadi target Islamophobia atau Perbedaan-phobia lainnya?

Saya berkunjung ke Korea awal tahun 2015 saat isu ISIS sedang panas-panasnya. Saat itu Host saya sempat melontarkan kekhawatirannya karena saya berhijab dan menyarankan untuk dicopot saja saat berjalan-jalan sendirian demi keamanan (silahkan baca cerita lengkapnya disini) meski alhamdulillah tidak terjadi hal yang mengkhawatirkan. 

Namun ada satu kejadian kecil yang masih membekas di ingatan saya. Saat itu saya berkunjung ke salah satu mall terkemuka. Kami tiba di salah satu counter dan melihat-lihat. Saat itulah saya menyadari bahwa ada seorang pramuniaga yang bukannya melayani customer malah menatap saya dengan pandangan mencemooh. Bahkan saat saya lihat balik beberapa kali bukannya berpaling dia malah tetap menatap saya demikian sebelum akhirnya berpaling karena ada customer yang bertanya. 

Pengalaman kedua adalah saat berada di Filipina. Saat berada di counter imigrasi, pak petugas yang lumayan ganteng tetiba bertanya,
“Are you Muslim?
“Yes.” (Sudah was was kalau ada apa-apa)
“Assalamualaikum.”
“Oh walaikumsalam.”

Saya pun sempat bingung. Emang jarang banget ya Muslim di Filipin? Kok kayaknya seneng banget ketemu satu Muslim. Padahal menurut mbah gugel islam adalah agama terbesar kedua. Barulah setelah berbincang dengan teman-teman Filipina saya mengetahui bahwa terdapat stigma miring mengenai Muslim Filipina yang kebanyakan bermukin di bagian selatan. Stigma ini muncul karena radikalisme yang berpusat di bagian selatan Filipina yang mayoritasnya adalah Muslim (yang kemarin-kemarin ngikutin berita penculikan nelayan Indonesia oleh kelompok Abu Sayaf, nah mereka salah satu biangnya) sehingga Muslim dipandang 'berbahaya'.

Di Indonesia ini saya termasuk golongan mayoritas dari segi suku, ras, dan agama sehingga jujur saja tidak pernah menerima olok-olok berkaitan dengan hal tersebut. Namun hanya karena saya tidak mengalami, bukan berarti hal itu tidak ada. Sudah beberapa kali saya mendapat cerita mengenai Perbedaan-phobia yang dialami teman entah karena suku, ras ataupun agama.

Ada satu kalimat yang membuat saya malu sekaligus salut saat seorang teman bercerita tentang Perbedaan-phobia yang dialaminya karena perbedaan agama. Dia berkata, "Tapi aku percaya kok ga semua (sebutan penganut agama) kayak gitu”. Jleb. Tau kenapa ngejleb? Karena yang dia alami adalah hasil generalisasi stigma, sedangkan dia sendiri yang jadi objek tidak mengeneralisir kelompok pelaku.

Perbedaan-phobia yang saya alami memang bukan apa-apa. Tapi yang paling mengena adalah membayangkan saudara kita harus mengalami hal seperti itu, bahkan lebih parah dan lebih sering……………………………… Dan bagaimana jika kita yang mengalami.

Wassalam.

You Might Also Like

0 comments